Jumat, 18 Oktober 2019


RUTINITAS DUNIA PERKULIAHAN




Jauh dari orang tua menjadikan hidup saya menjadi mandiri karena segala hal akan jalani sendiri. Rutinitas dalam dunia perkuliahan saya terlihat seperti mahasiswa lainnya tetapi berbeda rasa karena setiap orang punya cara tersendiri dalam merasakan hidup masing-masing. Aktivitas saya dimulai dari pagi, saya bangun di pagi hari langit yang masih gelap suara lantunan ayat suci al Quran dari mesjid di daerah tempat tinggal saya menandakan waktu yang tepat memulai rutinitas sehari-hari. Saya sekarang sudah menjadi mahasiswa mengambil prodi Manajemen Pendidikan Islam, semester I berada di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Di roster mata kuliah kami masuk pagi yaitu pukul 07.00. Kami memulai pelajaran 5-10 menit setelah masuk. Keadaan di dalam ruangan seperti biasa sama halnya ketika duduk di sekolah MA hanya saja cara belajarnya sedikit berbeda karena sekarang dosen hanya sebagai mengarahkan dan kita mencari bahan materi yang diberikan dosen. Belajar 2 sks dalam satu hari, singkat namun tugas serasa sebukit. Dalam kelas diskusi harus aktif karena tanpa diskusi kita tidak akan mendapatkan pengetahuan.


Setelah keluar dari kelas, hal biasa saya lakukan adalah mengerjakan tugas bersama dengan kelompok agar tugas yang kami dapatkan dari beberapa dosen tidak menumpuk dan saya dapat mengaturnya. Karena dalam tugas selalu merujuk pada buku kami selalu pergi ke perpustakaan agar mendapatkan materi yang dibutuhkan dalam menyelesaikan tugas-tugas dari dosen. Kemudian jika tidak ada tugas saya bergabung dengan organisasi dari daerah saya atau biasanya saya langsung pulang untuk mengerjakan tugas individu dan mengikuti seminar atau kuliah umum. Aktivitas saya ini akan selalu terjadi kembali setiap hari baik ada perubahan atau masih tetap sama.

KEJAR PAKET


A. Pengertian Kejar Paket
Adanya kejar paket A,B dan C sangat membantu masyarakat yang dikarenakan beberapa hal seperti yang tidak pernah sekolah, yang putus sekolah, yang tidak lulus UN, yang tidak mengikuti pendidikan formal (homeschooling), sampai mereka yang sudah diusia kerja tidak memiliki ijazah atau ijazah sKejar paket adalah jalan pendidikan non-formal yang diberikan pemerintah kepada untuk siswa yang terkendala dalam pendidikan sekolah. Kejar paket A untuk pendidikan setara SD, kejar paket B untuk pendidikan setara SMP dan kejar paket C untuk pendidikan SMA sederajat. Adeseorang hilang.
Saat mendengar kejar paket A,B dan C jangan berpikir negatif karena adanya kejar paket ini dapat membantu kita melanjutkan jenjang pendidikan kita. Seperti halnya paket C juga bisa kuliah dan mendapatkan beasiswa. Seperti Hari Mustafa program Kedokteran UISU yang menyelesaikan studinya dengan nilai yang terbaik. Membuktikan bahwa lulusan kejar paket C dapat bersaing dan diterima di perguruan tinggi. Jadi tidak ada lagi alasan klasik kita untuk tidak mendapatkan pendidikan di bangku sekolah.

B. Tata Cara Pendaftaran Kejar Paket
Syarat-syarat yang terpenting yaitu kita harus mengetahui tempat dan jadwal pelaksanaan pendaftaran maupun saat ingin ujian. Usia peserta tidak dibatasi.
Syarat-syarat pendaftaran kejar paket C (SMA IPA/IPS)

  1. Mengisi formulir pendaftaran di tempat pendaftaran PKBM kreatif atau diperwakilkan PKBM kreatif (Blogger Pelajar)
  1. 10 lembar fotocofy ijazah SMP (legalisir)
  1. 10 lembar fotocofy SKHUN (legalisir)
  1. Foto ukuran 3×4 (10 lembar), 2×3 (10 lembar). Foto berwarna dengan background merah dan mengenakan kemeja putih. Foto yang digunakan untuk ijazah.
  1. Fotocofy KK (2 lembar)/KTP (1 lembar)
  1. Tulis nama di belakang foto
  1. Peserta boleh dari seluruh Indonesia atau luar negeri
  1. Surat kehilangan dari kepolisian setempat (dilegalisir rangkap 6)

Jika ijazahnya hilang agar terlebih dahulu mengurus sebagai berikut:
  1. Memberi surat kehilangan dari kepolisian ke dinas provinsi atau kabupaten kota, untuk menerbitkan surat pengganti ijazah agar dapat mengikuti kejar paket C, karena ijazah merupakan syarat-syarat pendaftaran.

C. Kesimpulan
Kejar paket C sangat dihindari masyarakat, karena banyak orang yang salah dalam memahaminya. Tetapi dibalik itu semuanya banyak manfaatnya yang tidak diketahui khalayak ramai. Menurut saya dari apa yang saya lihat, bahwa kejar paket C ini merupakan alternatif bagi orang-orang yang tertunda di jalan menuju mimpinya atau cita-citanya. Karena adanya kejar paket C ini bisa membantu seseorang yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya menjadi bisa melanjutkannya. Dapat membuka pintu harapan yang hampir tertutup. Dan menghapus rasa putus asa pada seseorang.





PROSES DIPENCARIAN REFERENSI DI PERPUSTAKAAN




Sebagai mahasiswa istilah referensi bukan hal yang asing di telinga kita, bahkan sudah menjadi makanan setiap hari. Bukan lagi kebutuhan tapi sudah menjadi kewajiban untuk menambah wawasan agar kita tidak terdiam dalam satu langkah saja tetapi berproses selangkah demi selangkah. Dalam mencari referensi terkadang membuat kita kewalahan dikarenakan terkadang referensi permintaan dari dosen cukup banyak dan terkadang hanya tersedia dengan jumlah yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. Ada juga peraturan yang membuat saya kesusahan dalam mencari referensi, yaitu hanya boleh referensi yang berbentuk buku tidak dalam bentuk digital. Padahal digital sangat membantu dalam menambah wawasan kita apalagi dalam pencarian referensi. Banyak buku yang kita dapatkan dalam bentuk digital. Tidak ada ketidakbolehan karena tidak ada sebab, adanya peraturan sudah pasti mempunyai alasan yang baik. Peraturan seperti ini akan membuat kita terbiasa membaca buku-buku yang ada dan tidak selalu tergantung kepada alat digital, meskipun alat digital adalah alat yang praktis dan sangat sederhana tetapi buku akan tetap lebih bagus dalam pencarian referensi. Menggunakan digital memang memudahkan kita tetapi bisa saja membuat kita menjadi malas dalam membaca karena sudah tergantung kepada hal yang instan. Apa topik yang kita cari hanya itu yang kita dapat kan tetapi dengan buku karena kita harus membacanya meskipun ada daftar isi dapat menambah wawasan kita di luar topik yang dicari. 

Dalam dunia perkuliahan saya dalam waktu masih terbilang baru, referensi adalah hal yang membuat saya terkadang jenuh terkadang biasa saja. Jenuh karena alasan yang sama dengan mahasiswa lain yaitu, referensinya yang banyak tetapi akan terasa biasa saja kalau ada kemauan saya ketika mencarinya. Langkah pertama saya dalam mencari referensi adalah mencari buku-buku di perpustakaan besar yang berada di UINSU universitas saya sekarang. Saya akan mencari buku yang berkaitan dengan apa yang dibutuhkan kemudian memperhatikan secara seksama karena dalam judul buku yang sama belum tentu yang saya cari ada. Hal ini sering juga saya alami, judul buku yang sama tapi topik tidak tersedia. Tetapi sebagai status yang baru dalam dunia pendidikan saya , yaitu mahasiswa jadi saya harus tetap mencari bukan berhenti karena itu termasuk sifat dan sikap mandiri. Jika saya tidak menemukan semua referensinya saya akan mencari tempat yang lain bahkan saya biasa meminjam buku teman saya. Berbicara referensi dalam perkuliahan tidak akan ada habisnya, karena akan selalu ada.





















Kamis, 17 Oktober 2019




KONTRAKAN SEJUTA CERITA DAN RASA



Waktu ke waktu saya melalui hari-hari saya dengan banyak hal yang setiap hari pasti berbeda apalagi jauh dari orang tua. Berbaur dengan orang-orang yang baru meskipun tidak semua, harus beradaptasi dengan lingkungan yang mungkin agak sedikit berbeda dengan tempat tinggal saya di kampung. Hidup mandiri adalah harus menjadi pilihan satu-satunya karena siapa lagi kalau bukan saya sendiri. Saya tinggal bersama lima teman, tiga teman saya dan dua kakak senior saya yang selalu membantu kami dalam hal yang tidak kami ketahui. Pertama melihat kontrakan ini sedikit membuat saya terkejut karena tidak sama dengan apa yang saya bayakan. Tetapi saya harus siap hidup dengan apa yang ada bukan mengadakan yang tidak ada. Saya selalu ingat pesan ayah jangan lupa kita berasal dari kampung dan bergayalah dengan semestinya dan tidak memalukan ayah. Mungkin pesan itu akan selalu menjadi penyadar saat saya sudah keluar dari zona saya sendiri.

Tempat tinggal saya ini sudah dapat dikategorikan sebagai tempat teraman karena belum ada kami mendapatkan hal-hal yang tidak diinginkan. Tempat yang strategis yang dapat membantu dalam memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Tempat saya tinggal adalah daerah kos-kosan dan kontrakan jadi orang-orang yang saya temui setiap hari adalah sama-sama mahasiswa/i. Karena memiliki kesibukan yang hampir sama dengan status yang hampir sama juga embuat tempat ini sedikit sepi dan akan sedikit terasa ramai jika sore hari. Saya tidak terlalu berbaur dengan warga di daerah tempat tinggal saya karena tidak mudah untuk bergabung dalam masyarakat. Saya hanya kuliah dan kembali ke kontrakan jika semua urusan di kampus sudah selesai hari itu. Mungkin hanya ini gambaran dari tempat tinggal saya, dengan cerita yang sederhana namun penuh dengan pengalaman yang bermakna.

Kamis,17 Oktober 2019


INDENTIFIKASI PERILAKU DAN KARAKTERISTIK AWAL SISWA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR PADA SEKOLAH DASAR  FULL DAY SCHOOL 


Abstrak: Melakukan kegiatan identifikasi prilaku siswa diawali pembelajaran merupakan  pendeteksian dini dalam mempersiapkan materi dan bahan ajar pada sekolah dasar bersifat full day school.  Sekolah dasar yang bersifat full day school memiliki siswa yang cendrung lebih menyenangi kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan kegiatan mereka seharari-hari, sehingga seorang pendidik sangat perlu melakukan identifikasi perilaku dan pengungkapan karakteristik siswa dalam mempersiapkan dirinya pada proses pembelajaran di kelas.


A. PENDAHULUAN
Selama proses belajar-mengajar berlangsung, terjadi interaksi antara pengajar dan siswa. Keberhasilan proses belajar-mengajar itu—untuk sebagian—dipengaruhi oleh keadaan awal yang dimiliki siswa, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Bagi setiap pengajar, mengetahui perilaku dan karakteristik awal siswa diperlukan dalam menyusun tujuan instruksional. Menurut Deterline (1965), teknologi instruksional merupakan aplikasi teknologi perilaku untuk menghasilkan perilaku khusus secara sistematik dalam rangka mencapai tujuan instruksional. Dari uraian singkat di atas, diperoleh gambaran bahwa perilaku dan karakteristik awal siswa penting, karena mempunyai implikasi terhadap penyusunan bahan belajar dan sistem instruksional. Oleh karena itu, dalam pembahasan selanjutnya akan dibicarakan cara mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa.

B. MENGIDENTIFIKASI KEMAMPUAN SISWA
Kemampuan siswa yang ada dalam kelas sering kali sangat bervariasi. Untuk mengatasi hal ini, ada dua pendekatan yang dapat dipilih; pertama, siswa menyesuaikan dengan materi pelajaran dan kedua, sebaliknya, materi pelajaran disesuaikan dengan siswa. Pendekatan pertama, siswa menyesuaikan dengan materi pelajaran, dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Seleksi penerimaan siswa 
  •  Pada saat pendaftaran siswa diwajibkan memiliki latar belakang pendidikan yang relevan dengan program pendidikan yang diambilnya. 
  • Setelah memenuhi syarat pendaftaran di atas, siswa mengikuti tes masuk dalam pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan program pendidikan yang akan diambilnya. 
Proses seleksi ini sering dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal.

2. Tes dan pengelompokan siswa Setelah melakukan seleksi seperti dijelaskan dalam butir satu, masih ada kemungkinan pengajar menghadapi masalah heterogennya siswa yang belajar dalam mata pelajaran tertentu. 

3. Lulus mata pelajaran prasyarat. Alternatif lain untuk butir dua di atas adalah mengharuskan siswa lulus mata pelajaran yang mempunyai prasyarat. Seperti prasyarat wajib lancar membaca al-Quran, yang diterapkan oleh beberapa sekolah-sekolah yang berbasis full day school. 
Pendekatan kedua, materi pelajaran disesuaikan dengan siswa. Pendekatan ini hampir tidak memerlukan seleksi penerimaan siswa.  Selanjutnya, siswa dapat maju menurut kecepatan masing-masing, karena bahan tersebut didesain untuk hal tersebut. 
Kedua pendekatan di atas bila dilakukan secara ekstrim, tidak ada yang sesuai untuk mengatasi masalah heterogennya siswa dalam sistem pendidikan full day school. Karena itu, terdapat pendekatan ketiga yang mengkombinasikan kedua pendekatan di atas. Pendekatan ketiga ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 
  •  Menyeleksi penerimaan siswa atas dasar latar belakang atau ijazah.
  •  Melaksanakan tes untuk mengetahui kemampuan dan karakteristik awal siswa. 
  •  Menggunakan sistem instruksional yang memungkinkan siswa maju menurut kecepatan dan kemampuan masing-masing.
  •   Memberikan supervisi kepada siswa secara individual.
Dari ketiga pendekatan di atas, terdapat tes-tes yang diberikan untuk mengetahui kemampuan awal siswa. 

C. PERILAKU AWAL
 Dalam ilmu psikologi, perilaku adalah segenap manifestasi hayati individu dalam berinteraksi dengan lingkungan, mulai dari perilaku yang paling nampak sampai yang tidak tampak, dari yang dirasakan sampai yang tidak dirasakan.  Bila dikaitkan dengan belajar dan pendidikan, perilaku bergeser mengalami sebuah perubahan, misalnya, perilaku buruk menjadi baik, dari tidak terampil menjadi terampil, dari tidak tahu menjadi tahu, dan lain sebagainya. 
Dalam menentukan sebuah sistem instruksional, terdapat tiga macam sumber yang dapat memberikan informasi kepada pendesain instruksional dalam menentukan prilaku awal siswa, yaitu:
  1.  Siswa atau calon siswa
  2.  Orang-orang yang mengetahui kemampuan siswa atau calon siswa dari dekat seperti pengajarnya terdahulu atau atasannya
  3.  Pengelola program pendidikan yang biasa mengajarkan mata pelajaran tersebut. 
Teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi perilaku awal siswa yaitu kuesioner, interviu, observasi, dan tes. 
Teknik yang dapat menghasilkan data yang lebih akurat adalah tes penampilan siswa dan observasi terhadap pelaksanaan pekerjaan siswa serta tes tertulis untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa. 
Ketika pengajar telah mengetahui perilaku awal siswa, perlu kiranya memperhatikan hasil tersebut bagi pengembangan tujuan instruksional. Seorang psikolog terkenal Fred. S. Keller,6 merancang suatu program modifikasi tingkah laku bagi suatu kursus non gelar dalam psikologi umum telah mendapatkan hasil yang memuaskan sehingga prosedur-prosedurnya dipakai untuk kursus-kursus psikologi atau bidang akademi lain di universitas-universitas beberapa negara.



D. KARAKTERISTIK AWAL
  Di samping mengidentifikasi perilaku awal siswa, pengembang instruksional harus pula mengidentifikasi karakteristik siswa yang berhubungan dengan keperluan pengembangan instruksional. 
Teknik yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi karakteristik awal siswa sama dengan teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi perilaku awal, yaitu kuesioner, interviu, observasi dan tes.
Tujuan mengetahui karakteristik siswa adalah untuk mengukur, apakah siswa akan mampu mencapai tujuan belajarnya atau tidak; sampai di mana minat siswa terhadap pelajaran yang akan dipelajari.  Hal-hal yang perlu diketahui siswa selain dari faktor-faktor akademisnya adalah:
 1. Faktor-faktor akademis
  • Berapa jumlah siswa dalam satu kelas
  • Apa latar belakang pendidikan (sekolah yang ditempuh)
  • Bagaimana nilai rata-rata yang dicapai tiap sekolah/kursus/latihan yang pernah dialami
  • Apakah siswa mempunyai kebiasaan belajar sendiri
  • Bagaimana kebiasaan belajar siswa
  • Apakah siswa sudah mengetahui sedikit tentang latar belakang pokok bahasan yang akan dipelajari
  • Apakah tingkat intelegensi tinggi, sedang atau rendah
  • Apakah siswa mambaca cepat
  • Apa saja yang dikuasai oleh siswa (student achievement)
  • Bagaimana motovasi belajar siswa
  • Apakah yang menjadi harapan siswa setelah mempelajari pokok bahasan tersebut
  • Bagaimana aspirasi kebudayaan dan vokasional siswa
2. Faktor-faktor sosial
  • Umur
  • Kematangan
  • Apakah ada siswa teladan dalam satu kelas
  • Apakah ada siswa yang cacat fisik
  • Bagaimana hubungan antarsiswa
  • Bagaimana latar belakang sosial-ekonomi.
3. Kondisi belajar     
 Menurut Dunn & Dunn, kondisi belajar dapat mempengaruhi konsentrasi, pencerapan dan penerimaan informasi. Pengaruh kondisi lingkungan tempat belajar terhadap seseorang dapat mengakibatkan reaksi yang berbeda-beda. 
Dunn & Duun membagi kondisi belajar menjadi empat golongan:
  • Lingkungan fisik
  • Lingkungan emosional
  • Lingkungan sosiologi
  • Kondisi fisiologis siswa sendiri
4. Teknik belajar
 Ada siswa/siswa yang belajar lebih efektif dan ada yang tidak. Ada yang lebih mudah mengerti dengan pendekatan visual, ada yang mudah menangkap verbal, dan ada yang lebih cocok bila ada kegiatan praktek, latihan, aktivitas fisik, atau simulasi.  Ada tiga hal yang perlu diuji sehubungan dengan tingkah laku siswa. 
  • Sampai seberapa jauh seorang siswa dapat menangkap lambang-lambang teoritis baik berupa kata-kata ataupun angka-angka, ketajaman pancaindera, dan penangkapan terhadap hal-hal yang subjektif seperti hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan. 
  • Bagaimana pengaruh siswa terhadap hal-hal yang diperoleh dari lambanglambang teoritis di atas. 
  • Bagaimana tabiat siswa dalam memberi alasan, bagaimana pendekatan pendekatan yang dilakukan oleh siswa terhadap suatu masalah dan proses penyimpulannya. 
  • Bagaimana kekuatan daya ingat siswa.
E. PENUTUP
 Mengidentifikasi perilaku awal dan karakteristik awal siswa merupakan salah satu unsur penting dalam model pengembangan instruksional.  Karena itu, mengetahui perilaku 
yang dikuasai siswa sebelum mengikuti pelajaran diperlukan untuk dapat mencapai tujuan instruksional yang ditetapkan. 

KATA PENGANTAR
NIZHAMIYAH, http://jurnaltarbiyah.uinsu.ac.id, (Medan, 2 Juli-Desember 2018)

GUNAWAN, Gunawan, IDENTIFIKASI PERILAKU DAN KARAKTERISTIK AWAL SISWA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR PADA SEKOLAH DASAR FULL DAY SCHOOL. NIZHAMIYAH, 2018, 8.2.