Kamis,17 Oktober 2019
INDENTIFIKASI PERILAKU DAN KARAKTERISTIK AWAL SISWA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR PADA SEKOLAH DASAR FULL DAY SCHOOL
Abstrak: Melakukan kegiatan identifikasi prilaku siswa diawali pembelajaran merupakan pendeteksian dini dalam mempersiapkan materi dan bahan ajar pada sekolah dasar bersifat full day school. Sekolah dasar yang bersifat full day school memiliki siswa yang cendrung lebih menyenangi kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan kegiatan mereka seharari-hari, sehingga seorang pendidik sangat perlu melakukan identifikasi perilaku dan pengungkapan karakteristik siswa dalam mempersiapkan dirinya pada proses pembelajaran di kelas.
A. PENDAHULUAN
Selama proses belajar-mengajar berlangsung, terjadi interaksi antara pengajar dan siswa. Keberhasilan proses belajar-mengajar itu—untuk sebagian—dipengaruhi oleh keadaan awal yang dimiliki siswa, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Bagi setiap pengajar, mengetahui perilaku dan karakteristik awal siswa diperlukan dalam menyusun tujuan instruksional. Menurut Deterline (1965), teknologi instruksional merupakan aplikasi teknologi perilaku untuk menghasilkan perilaku khusus secara sistematik dalam rangka mencapai tujuan instruksional. Dari uraian singkat di atas, diperoleh gambaran bahwa perilaku dan karakteristik awal siswa penting, karena mempunyai implikasi terhadap penyusunan bahan belajar dan sistem instruksional. Oleh karena itu, dalam pembahasan selanjutnya akan dibicarakan cara mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa.
B. MENGIDENTIFIKASI KEMAMPUAN SISWA
Kemampuan siswa yang ada dalam kelas sering kali sangat bervariasi. Untuk mengatasi hal ini, ada dua pendekatan yang dapat dipilih; pertama, siswa menyesuaikan dengan materi pelajaran dan kedua, sebaliknya, materi pelajaran disesuaikan dengan siswa. Pendekatan pertama, siswa menyesuaikan dengan materi pelajaran, dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Seleksi penerimaan siswa
- Pada saat pendaftaran siswa diwajibkan memiliki latar belakang pendidikan yang relevan dengan program pendidikan yang diambilnya.
- Setelah memenuhi syarat pendaftaran di atas, siswa mengikuti tes masuk dalam pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan program pendidikan yang akan diambilnya.
Proses seleksi ini sering dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan formal.
2. Tes dan pengelompokan siswa Setelah melakukan seleksi seperti dijelaskan dalam butir satu, masih ada kemungkinan pengajar menghadapi masalah heterogennya siswa yang belajar dalam mata pelajaran tertentu.
3. Lulus mata pelajaran prasyarat. Alternatif lain untuk butir dua di atas adalah mengharuskan siswa lulus mata pelajaran yang mempunyai prasyarat. Seperti prasyarat wajib lancar membaca al-Quran, yang diterapkan oleh beberapa sekolah-sekolah yang berbasis full day school.
Pendekatan kedua, materi pelajaran disesuaikan dengan siswa. Pendekatan ini hampir tidak memerlukan seleksi penerimaan siswa. Selanjutnya, siswa dapat maju menurut kecepatan masing-masing, karena bahan tersebut didesain untuk hal tersebut.
Kedua pendekatan di atas bila dilakukan secara ekstrim, tidak ada yang sesuai untuk mengatasi masalah heterogennya siswa dalam sistem pendidikan full day school. Karena itu, terdapat pendekatan ketiga yang mengkombinasikan kedua pendekatan di atas. Pendekatan ketiga ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
- Menyeleksi penerimaan siswa atas dasar latar belakang atau ijazah.
- Melaksanakan tes untuk mengetahui kemampuan dan karakteristik awal siswa.
- Menggunakan sistem instruksional yang memungkinkan siswa maju menurut kecepatan dan kemampuan masing-masing.
- Memberikan supervisi kepada siswa secara individual.
Dari ketiga pendekatan di atas, terdapat tes-tes yang diberikan untuk mengetahui kemampuan awal siswa.
C. PERILAKU AWAL
Dalam ilmu psikologi, perilaku adalah segenap manifestasi hayati individu dalam berinteraksi dengan lingkungan, mulai dari perilaku yang paling nampak sampai yang tidak tampak, dari yang dirasakan sampai yang tidak dirasakan. Bila dikaitkan dengan belajar dan pendidikan, perilaku bergeser mengalami sebuah perubahan, misalnya, perilaku buruk menjadi baik, dari tidak terampil menjadi terampil, dari tidak tahu menjadi tahu, dan lain sebagainya.
Dalam menentukan sebuah sistem instruksional, terdapat tiga macam sumber yang dapat memberikan informasi kepada pendesain instruksional dalam menentukan prilaku awal siswa, yaitu:
- Siswa atau calon siswa
- Orang-orang yang mengetahui kemampuan siswa atau calon siswa dari dekat seperti pengajarnya terdahulu atau atasannya
- Pengelola program pendidikan yang biasa mengajarkan mata pelajaran tersebut.
Teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi perilaku awal siswa yaitu kuesioner, interviu, observasi, dan tes.
Teknik yang dapat menghasilkan data yang lebih akurat adalah tes penampilan siswa dan observasi terhadap pelaksanaan pekerjaan siswa serta tes tertulis untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa.
Ketika pengajar telah mengetahui perilaku awal siswa, perlu kiranya memperhatikan hasil tersebut bagi pengembangan tujuan instruksional. Seorang psikolog terkenal Fred. S. Keller,6 merancang suatu program modifikasi tingkah laku bagi suatu kursus non gelar dalam psikologi umum telah mendapatkan hasil yang memuaskan sehingga prosedur-prosedurnya dipakai untuk kursus-kursus psikologi atau bidang akademi lain di universitas-universitas beberapa negara.
D. KARAKTERISTIK AWAL
Di samping mengidentifikasi perilaku awal siswa, pengembang instruksional harus pula mengidentifikasi karakteristik siswa yang berhubungan dengan keperluan pengembangan instruksional.
Teknik yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi karakteristik awal siswa sama dengan teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi perilaku awal, yaitu kuesioner, interviu, observasi dan tes.
Tujuan mengetahui karakteristik siswa adalah untuk mengukur, apakah siswa akan mampu mencapai tujuan belajarnya atau tidak; sampai di mana minat siswa terhadap pelajaran yang akan dipelajari. Hal-hal yang perlu diketahui siswa selain dari faktor-faktor akademisnya adalah:
1. Faktor-faktor akademis
- Berapa jumlah siswa dalam satu kelas
- Apa latar belakang pendidikan (sekolah yang ditempuh)
- Bagaimana nilai rata-rata yang dicapai tiap sekolah/kursus/latihan yang pernah dialami
- Apakah siswa mempunyai kebiasaan belajar sendiri
- Bagaimana kebiasaan belajar siswa
- Apakah siswa sudah mengetahui sedikit tentang latar belakang pokok bahasan yang akan dipelajari
- Apakah tingkat intelegensi tinggi, sedang atau rendah
- Apakah siswa mambaca cepat
- Apa saja yang dikuasai oleh siswa (student achievement)
- Bagaimana motovasi belajar siswa
- Apakah yang menjadi harapan siswa setelah mempelajari pokok bahasan tersebut
- Bagaimana aspirasi kebudayaan dan vokasional siswa
2. Faktor-faktor sosial
- Umur
- Kematangan
- Apakah ada siswa teladan dalam satu kelas
- Apakah ada siswa yang cacat fisik
- Bagaimana hubungan antarsiswa
- Bagaimana latar belakang sosial-ekonomi.
3. Kondisi belajar
Menurut Dunn & Dunn, kondisi belajar dapat mempengaruhi konsentrasi, pencerapan dan penerimaan informasi. Pengaruh kondisi lingkungan tempat belajar terhadap seseorang dapat mengakibatkan reaksi yang berbeda-beda.
Dunn & Duun membagi kondisi belajar menjadi empat golongan:
- Lingkungan fisik
- Lingkungan emosional
- Lingkungan sosiologi
- Kondisi fisiologis siswa sendiri
4. Teknik belajar
Ada siswa/siswa yang belajar lebih efektif dan ada yang tidak. Ada yang lebih mudah mengerti dengan pendekatan visual, ada yang mudah menangkap verbal, dan ada yang lebih cocok bila ada kegiatan praktek, latihan, aktivitas fisik, atau simulasi. Ada tiga hal yang perlu diuji sehubungan dengan tingkah laku siswa.
- Sampai seberapa jauh seorang siswa dapat menangkap lambang-lambang teoritis baik berupa kata-kata ataupun angka-angka, ketajaman pancaindera, dan penangkapan terhadap hal-hal yang subjektif seperti hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan.
- Bagaimana pengaruh siswa terhadap hal-hal yang diperoleh dari lambanglambang teoritis di atas.
- Bagaimana tabiat siswa dalam memberi alasan, bagaimana pendekatan pendekatan yang dilakukan oleh siswa terhadap suatu masalah dan proses penyimpulannya.
- Bagaimana kekuatan daya ingat siswa.
E. PENUTUP
Mengidentifikasi perilaku awal dan karakteristik awal siswa merupakan salah satu unsur penting dalam model pengembangan instruksional. Karena itu, mengetahui perilaku
yang dikuasai siswa sebelum mengikuti pelajaran diperlukan untuk dapat mencapai tujuan instruksional yang ditetapkan.
KATA PENGANTAR
NIZHAMIYAH, http://jurnaltarbiyah.uinsu.ac.id, (Medan, 2 Juli-Desember 2018)
GUNAWAN, Gunawan, IDENTIFIKASI PERILAKU DAN KARAKTERISTIK AWAL SISWA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR PADA SEKOLAH DASAR FULL DAY SCHOOL. NIZHAMIYAH, 2018, 8.2.